Minggu, 11 Desember 2011

Galau (lagi)

Galau, 5 huruf, satu kata. Menyesakkan. Terjadi pada siapapun.
Termasuk gue. Lagi dan lagi..

Akhir-akhir ini gue sering ngerasa galau. Terutama di hari libur seperti ini, sepi. Terjadi kapanpun, bangun tidur, sebelum tidur, pulang sekolah. Terutama kalo rumah lagi kosong, gue sendirian.. Galau gue bisa meningkat sekitar 3-4x lipat.
Gue sendiri ga tahu secara pasti penyebab galau gue, yang terkesan ga jelas ini. Ntah karena mantan pacar atau pacar yang mungkin sebentar lagi jadi mantan pacar atau mungkin calon pacar yang tak kunjung tampak. Cieilehhh....

By the way, sebelumnya gue suka meremehkan orang-orang yang galau. Alay, gue bilang dalam hati saat itu... Terutama saat gue nge-check TL twitter gue, banyak sekali remaja (terutama perempuam) yang galau. Mungkin karma, gue rasa. Sekarang gue galau, suka-nya curhat galau.

Gue pikir, penyebab galau gue itu putus sama mantan yang terakhir. Ya, sebelumnya gue ga pernah (jarang) galau. Pacar.. Uhh, mantan gue itu ahhh... Tau banget apa mau gue.
Obrolan kita nyambung, sms ataupun chat selalu rame, ga berkutat di kalimat "lagi apa" "lagi apa" dan "lagi apa". Kayanya banyak topik yang selalu bisa ketawain.
Kayanya gue udah tau luar dan dalem dia deh. Udah ga ada malu-malu lagi. Well, gue kangen.. Kangen masa-masa itu. Jarang galau.

Gue sering nanya ke diri gue sendiri, apa yang seharusnya gue lakuin. Gue sadar, buat balikan itu udah ga mungkin lagi.
Mempertahankan hubungan yang sekarang, ga bedanya sekarang gue ngerasa single. Doi ga pernah ngerti apa yang gue mau, buat ngejalaninnya aja kayanya gue selalu galau. Bukan salah doi, ini salah gue. Salah gue yang ga bisa sepaham sama doi. Komunikasi udah ga lancar, padahl kita tuh baru 1 bulan lebih!!!!!!!!! Tau kan??? Masa-masa yang seharusnya (masih) indah, yang seharusnya (masih) lebay!!!!!!!!! dan dia malah bilang apa, coba? "Harus jarang komunikasi harus jarang" Helloooowwwwww....................
Nyari yang baru? Gue males mulai dan ngulang dari awal.

Oke, ini curhat. Gue harap yang baca ga ngerasa rugi ya udah ngebaca ini. Ekekekek
Pesan gue satu, HARGAILAH ORANG YANG GALAU. Jangan pas lo bahagia dan menganggap orang galau itu... Iyuuuuwh. Jangan, ntar kebahagiaan lo diambil Tuhan.
Percaya ga percaya, gue rasa karma itu ada. Walaupun gue ga sepenuhnya percaya, tapi sepertinya itu hal yang nyata....

Sabtu, 10 Desember 2011

But not for me

Gue dalam perjalanan menuju tidur sebelum akhirnya mutusin buat ngepost tulisan ini di blog. Gue kembali mikir malam ini, lagi dan lagi alesan gue 'belum' bisa move on.
Kalo gue disuruh jawab mungkin karna perasaan ga ikhlas karna gue 'kalah'. Malam ini gue coba ikhlas.
Sebelumnya gue kembali ingat dan ingat lagi semua kebaikan dia, mengenang kembali semua kelucuan yang selalu bikin kita bisa puas ketawa bareng. Malam ini gue nyoba mikir sebaliknya.
Dan tau hal yang aneh? Air mata gue jatuh sembari gue mulai nulis ini. Mungkin ini sulit, mencoba ikhlas kembali menerima 'kekalahan' gue. Ya, gue kalah (dan lagi)




Gue inget, saat itu 8 bulanan kita. Masih seperti biasa ga ada yang aneh. Gue masih ketawa dan begitupun dia.
Tapi, tiga hari kemudian, semuanya berubah. Selanjutnya cuma ada tangisan gue dan kebohongan-kebohongan dia buat ga nyakitin hati gue. "aku homo" "aku ditembak temen sekelasku yang banci" (yang ini bener) yang akhirnya gue tahu itu cuma alesan.
Dia bilang cuma gak tega. Menurut gue itu lebih daripada tega.
Gue bilang, "kok bisa kamu gitu??!!!! Sebelumnya kita......" Suara gue mulai sumbang, nahan isakan tangis. "Aku matiin nih ya telfonnya kalo kamu nangis" dia bilang, dengan mudahnya. "Jangaaaaan, aku mau tahu alesannya" gue memohon. "aku bisex, puas kamu??!!" Telfon pun dimatikan. Alasan sederhana itu, menyakitkan. Dan sampai sekarang, gue tetep ga tahu apa alesan dari kita putus. Gue udah gak mau tau lagi.


Kejadian itu teringat-ingat kembali. Gimana caranya yang sederhana itu mampu menghancurkan hati gue. Hancur lebur.
Dan saat terakhir kita bertemu, atas apa yang udah kita lakuin saat itu. Dia lakuin ini lagi ke gue.
Dia hilang, delete dan mungkin nganggep gue cuma cewek labil bego yang selalu berhasil dia bodoh-bodohin.
Gue emang bego, tapi gue ga mau selamanya jadi itu.


Ini malam terakhir kalinya. Terakhir kalinya air jatuh dari pelupuk mata gue buat dia. Terlalu sakit gue rasa. Sebelumnya gue ga pernah lakuin ini. Ngebenci? Gak mungkin, gue pikir sebelumnya.
Tapi malam, I'll do it!


"Although I can't dismiss the memory of his kiss, I guess he's not for me.. No, he's not for me"

Indah di awal

“Boleh duduk di sini, Mbak?”
Suara bariton dari sebelah kiri mengagetkanku. Kepalaku berputar ke arah sumber suara, lalu mengangguk seraya menyingkirkan tasku dari bangku sebelah.
“Sendirian aja, Mbak. Nggak bareng temennya?”
Pertanyaan basa-basi mulai diluncurkan cowok itu. Sebenarnya, aku paling malas menanggapi segala bentuk pertanyaan sok pengen tahu-siapa elu macam ini. Tapi malaikat baik sedang berhasil membujukku untuk sekedar meletakkan blackberry-ku ke dalam tas dan meladeni pertanyaannya. Lagipula, lumayan ada teman ngobrol ketimbang terus-menerus sibuk dengan ponsel.
“Iya, Mas. Teman-teman saya nggak ada yang pulang ke arah sini”
Bermula dari percakapan basa-basi, obrolan kami berubah menjadi menyenangkan. Mulai dari bertukar pendapat mengenai masalah sosial, atau masalah ringan seperti musik dan film. Ada satu novel favoritku yang ternyata juga jadi favoritnya: Breakfast at Tiffany’s karya Truman Capote. Dia bahkan yakin kalau Audrey Hepburn adalah satu-satunya aktris yang cocok memerankan Holly Golightly. Aku hanya bisa terbahak mendengar pendapatnya. Ada-ada saja dia.
Dia? Tunggu. Obrolan sudah memasuki fase cair tapi aku masih belum tahu namanya? Kulirik jam dinding di halte. Ternyata kami sudah di sini lebih dari setengah jam. Dan cowok di sampingku–yang terlihat akrab denganku ini ternyata masih berstatus ‘orang asing’.
Oh iya, sampai lupa. Aku Agra, kamu?
Seperti membaca pikiranku, dia memperkenalkan diri.
Magda..” Sambil tersenyum, tanganku menyambut tangannya.
Bagus deh, aku kira Holly Golightly.” Agra nyengir, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
Kami pun terbahak.
*****
Kamar tidur, Februari 2011, 07:12
Aku menyeka air mata yang menggumpal di sudut mata. Beberapa jam lagi, sidang keputusan atas rumah tanggaku dan Agra akan jelas. Dada ini terasa sesak saat ingatanku akan perkenalan manis dua tahun lalu menyeruak. Sebuah awal dimana aku mengenal sosok Agra yang lucu dan baik di awal, tapi berubah menjadi ringan tangan saat kami berumahtangga.
Tertunduk, perasaanku kini diambang lega. Setitik air mata jatuh di tanganku, beberapa senti dari lebam biru yang enam hari lalu dihadiahkannya.

Menyesal

Penyesalan selalu datang terlambat. Mungkin kalimat ini paling sesuai untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Gara-gara aku, Chiska tak pernah mau menemuiku lagi. Berkali-kali aku mendatanginya, tapi berpuluh-puluh kali pula ia diam. Jangankan menemui. Menjawab sapaanku pun tak dilakukannya.
****
PLAKK!! Kutampar pipinya. Dua detik nafasnya memburu sebelum akhirnya tangisnya tumpah.
“Pukul. Pukul lagi kalau itu bikin kamu puas, Dos!” teriak Chiska di sela-sela tangisnya.
Aku diam. Nafasku tak beraturan. Tanganku gemetaran. Untuk kesekian detik pikiranku kosong. Perasaan kaget bercampur rasa bersalah dan menyesal. Seakan kurang lengkap, ditambah rasa gengsi dan marah. Komplit.
Chiska masih menangis.
“S-s-siapa bajingan yang bersamamu kemarin?” terbata kutanyakan lagi padanya. Sekedar membutuhkan jawaban atas cemburuku yang sudah buta.
“Aku udah bilang, dia kakak sepupu aku. Mas Dewo, Dos”
PLAK!
“Bohong! Dia bukan Dewo. Aku tahu itu. Kamu mulai bohong, Chis!”
Pengaruh minuman laknat ternyata membuat nalarku tak berfungsi sama sekali. Sifat temperamental, cemburu dan alkohol memang kombinasi tepat untuk iblis bersarang.
****
Tok..tok..tok..
Kucoba mengetuk lagi, siapa tahu kali ini berhasil. Ini sudah hari kedua, dan aku bersikukuh untuk tetap berusaha sampai aku mendapatkan maafnya. Mungkin sulit bagi Chiska untuk memaafkanku, tapi aku tahu dia pasti punya kesempatan kedua buatku. Hubungan satu setengah tahun ini ingin kubina hingga berumahtangga. Makanya, aku ingin meminta maaf dan memperbaiki dari awal. Niat yang bagus. Tuhan pasti memudahkan.
Tok…tok…tok.
Sepi. Masih belum ada jawaban. Sudah tiga jam kutunggui, belum juga ada tanda-tanda ia muncul. Atau minimal, merespon panggilanku.
Kuketuk nisannya sekali lagi. Kali ini agak keras. “Chis, kamu masih di dalam, kan?”
*****
Based on:
@fiksimini RT @attararya MENGEJAR MAAF. Sudah berjam-jam kutunggui, tak juga ia muncul. Kuketuk nisannya, ‘Kau masih di dalam, kan?’

Jumat, 09 Desember 2011

Pesta

“Kapan aku boleh keluar, Bu?” Bocah kecil itu merengek untuk kesekian kalinya. Kali ini mukanya sudah berlipat enam –tanda bahwa ia sudah sangat kesal. Ibunya hanya menoleh sebentar, lalu kembali ke kegiatannya semula; menyisir rambut panjangnya.
“Bosan di sini terus, Bu. Pengen main di luar sama temen-temen”
“Tunggulah bentar lagi, nanti Ibu beri tahu kapan kamu boleh main di luar. Bentar lagi, Le..” Ibu mencoba menenangkan.
“Kapan, Bu?”
“Tunggulah sampai bulan sembunyi, lalu Mariam memberi kita tanda”
“Mariam? Siapa dia?” Tanya anak kecil itu beruntun. Rasa ingin tahunya sangat besar hingga ia merapat ke badan ibunya.
“Mariam itu nenek yang tinggal di pondok bambu itu. Lima puluh meter dari sini” Tangannya sejenak berhenti menyisir. Diacungkannya telunjuk kurus itu ke arah pondok bambu yang samar tertutup kabut.
“Lalu, kenapa ia memberi tanda?”
Ibunya tersenyum, lalu mengusap kepala gundul anak kecilnya. “Mariam akan membakar sesuatu yang menimbulkan asap kecil nan harum. Itulah pertanda kita bisa keluar. Pesta. Ya, kau boleh bermain dengan teman-temanmu dan Ibu akan bertukar cerita dengan kerabat.”
“Pesta, Bu?” Mata anak kecil itu membesar. Di bayangannya pesta adalah tempat dimana makanan enak disajikan gratis.
Ibunya mengangguk. “Nanti coba kau rasakan yang berwarna merah. Rasanya manis dan harum. Atau yang kecil putih. Lezat dan harum.”
Mata anak itu kian membesar, sementara ia terus memperhatikan bulan. Berharap awan segera menyembunyikannya agar pesta lekas dimulai.
****
Tiga jam kemudian.
“Nah, sudah ada tanda-tanda kebaikan. Asap dari Mariam sudah tercium. Kau boleh bersiap keluar sekarang. Tunggu Ibu, jangan sendirian.”
Ibu menggandeng tangan anaknya,  lalu mengajaknya melayang rendah ke arah asap. Tampak di bawah, Nenek Mariam membakar sesuatu yang menimbulkan bau harum. Mulutnya komat-kamit seperti sedang mengunyah sesuatu. Tapi sepertinya ia sedang bersenandung. Meski terdengar lirih dari tempatku, tapi samar-samar bisa kudengar.
Lingsir wengi sepi durung bisa nendra
Kagoda miring wewayah ang rerindu ati
…….
Ibu terkikik. Kami pun melayang lebih cepat. Pesta dimulai!

Kamu, cita-cita dan kenyataannya

Bahagia, aku tak tahu apa itu sebelum aku bertemu denganmu. Mungkin sebelumnya hanya kesenangan.
Cita-cita, aku tak tahu secara pasti sebelum aku mengenalmu. Belum kutemukan cara untuk mewujudkannya.
Dan saat itu kau hadir, mengisi hari-hariku. Tahukah kau? Semenjak bersamamu aku selalu menyukai lelaki cerdas. Tak seperti yang sebelumnya. Kau merubahku, caraku berpikir.

Masih terbayang jelas, sore itu. Hujan dan berdua didalam mobilmu. Kita bercerita tentang cita-cita. Kamu bilang, sempat ragu saat memilih jurusan di SMA, tapi kamu memilih untuk menuruti kemauan orang tua mu untuk masuk IPA dan arsitek menjadi jurusan pilihanmu saat nanti akan kuliah. Kau tanyakan aku.. Hukum, Aku ingin menjadi hakim seperti ayahku. Ku bilang.
Dan selanjutnya, aku begitu bersemangat membayangkan beberapa tahun lagi kita akan menggapai impian itu. Bahkan 7 tahun lagi katamu, kita akan hidup dalam satu rumah. setelah kita sukses. Bersama.. Itu katamu.
Memang, terlalu jauh pikirku. Tapi, hanya sekedar rencana apalah salahnya.
Kubilang, ketika kamu berhasil masuk universitas negeri aku akan memberikan inginmu. Aku akan menutup jejaring sosialku, twitter. Hal yang selalu membuat panas hatimu, dan membuat orang-orang asing itu berhenti mengomentari kehidupanku. Itu janjiku.

Tanpa pernah, kita merencanakan bahwa kita akan kehilangan satu sama lain.
Tidak, bukan tidak pernah. Rasanya aku hanya takut untuk merencakannya.

Akhirnya aku kehilanganmu.
Semuanya... Seperti naskah film yang sudah selesai tapi gagal pembuatan filmnya. Film itu tak pernah tayang.

Mungkin, 7 tahun lagi...
Kau berhasil menggapai cita-citamu, menjadi arsitek (tanpa aku) atau mungkin kau memilih untuk memilih jurusan lain. Ntahlah...
Dan aku, menjadi bu hakim atau mungkin malah bekerja di bank. Terlalui gelap, aku tak tahu...

Aku tetap mencari seseorang sepertimu, yang mampu membuatku bersemangat. Selain daripada orang tuaku.
Belum kutemukan.
Tapi, aku berharap kamu.

Berusaha, selalu. Tapi berdoa hanya untuk dipertemukan kembali dengan seseorang sepertimu.

Derita orang yang gak bisa move on

Move on. 2 kata, 6 huruf, 1 arti serta mudah untuk diucapkan dan sulit untuk dilakukan.
Melanjutkan hidup tanpa seseorang yang biasa menemani hari-hari kita, mengisi gelap sunyi setiap sisi relung hati, membuatmu tertawa hingga rasanya air mata tak tahan untuk keluar dari kedua sudut matamu.
Move on bukan berarti melupakan hanya membuat semua tentang "dirinya" udah gak ngefek lagi di hidup kamu.
Gak semua orang bisa ngelakuin hal ini.
Salah satunya, Ya gue. Kalo cara gue pribadi buat bisa move on dengan cara nyari pelampiasan.
Pernah gue berhasil move on dengan cara itu. Ya, dia udah ga begitu ngefek di hidup gue. Bahkan, gue udah ga "sesek" dada lagi tiap nginget, denger nama dia. Orang yang sial gue jadiin pelampiasan itu Erwin. Pertama ketemu udah mempesona gue banget, tinggi dan dengan mukanya yang imut tanpa dosa itu. Semacam kencan buta bisa dibilang. Well, pada akhirnya dia cuma harapan kosong yang bikin gue galau. Kegalauan terhadap Erwin ini menghilangkan kegalauan gue sebelumnya sama Dzaky. Ini gue namain teknik amplas hati, jadi lo harus ngelukain hati lo lagi buat nutupin luka lo yang sebelumnya. Baru deh abis itu lo siap pacaran bener, tanpa dibayang-bayangin mantan gitu.
Oke, itu sekedar tips buat yang udah pacaran lumayan lama kemudian putus dan belum bisa move on.
Dan sekarang gue mau nulis gimana menderitanya sebagai pihak yang stuck pada satu orang.
Menurut pengalaman, beginilah rasanya....
Dimulai dari bangun tidur, selalu ada rasa sesak di dada. Gelisah, ntah mengapa. Padahal lo gak punya keturunan penyakit jantung.
Mimpiin mantan, didalam mimpi lo kadang selalu hadir dia. Ntah sebagi pemeran utama di mimpi lo atau sekedar figuran tapi mimpi itu selalu berhasil bikin lo diem, kangen dan mikir buat ngehubungin dia.
Kebangun tengah malam, padahal lo ga pengen buang hajat. Buat pemakai BB pasti dia check jejaring sosial dan check TL mantannya.
Masih sering memantau dan peduli pada kegiatan mantan, ngecheck TL, dia lagi deket sama siapa, pacar dia sekarang anak mana bahkan menurut pengalaman temen-temen gue mereka pada nyimpen foto pacarnya mantan mereka buat diperbandingkan ke diri mereka.
Dan sering kali saat ngecheck TL twitter mantan ada rasa sakit ketika dia ngucapin selamat pagi ke gebetan dia yang baru, selamat pagi yang biasanya dia ucapkan buat kita. Rasa sesak yang ketika lo minum air bikin air seperti ketahan di dada lo. Gue ngalamin fase ini.
Nanyain ke temen-temennya tentang mantan, "eh dia kira-kira masih ada rasa ga ya ke gue?" itu tanda lo masih berharap bisa balik lagi ke mantan lo.
Tangan dingin dan jantung berdetak cepat ketika chat yang menyangkut dia, "eh kemaren mantan lo cerita gini ke gue" "cerita apaan????" "PING!!!" "PING!!!" "PING!!!"
Tapi, satu hal yang jangan lo lakuin. Jangan pernah lo nyalahin diri lo sendiri. "coba dulu gue ga gini, pasti dia ga bakal pergi" Gak, lo salah. Dia pergi adalah pilihan dia. Seorang yang bener-bener sayang sama lo punya seribu alasan buat mempertahankan lo.
Gue sendiri belum sepenuhnya bisa move on dari mantan gue. Tapi seenggaknya, gue ga sesering dulu bangun tengah malam, gak mimpiin dia dan berusaha nelfon dia yang kemudian telfon gue di matiin, udah gak sesek di dada. Bahkan, gue udah mulai sayang sama pacar gue yang sekarang tapi.... Dalam hati kecil gue, masih selalu berharap dia jodoh gue. Gue selalu nunggu dia. Ntah karna gue belum ketemu yang bisa bikin gue sepenuhnya sayang atau memang gue ditakdirkan buat nunggu dia yang ga tau bakal balik apa engga sama gue.. Kalo dibilang udah ketemu yang lebih, Ya pasti udah. Erwin lebih, Ade pacar gue yang sekarang jauuuuuh lebih baik daripada Dzaky. Tapi itu ga ngerubah gue buat nunggu dia.
Buat beberapa orang yang cuma ngomong "udahlah lupain aja" "gak usah dipikirin lagi deh, kamu udah punya yang baru" gak segampang itu bray...
Buat yang gak pernah ngerasain gimana rasanya... Tapi yang lebih parah, buat kalian yang gak bisa move tanpa pernah berusaha buat move on.