Kamis, 15 Desember 2011

Tumbal

Satu tarikan nafas, lalu kuhela. Ada sedikit kelegaan yang kurasakan. Tapi kali ini tak sendiri, ada sekelumit rindu menggantung. Ku lihat lagi, asesoris menonjol yang dipakainya sore ini. Sebuah fedora dengan aksen potongan bulu merak sintetis di sisi kiri. Cantik. Serasi dengan coat hijau lumut yang membungkus tubuhnya dan menyelamatkannya dari hawa dingin.
****
Ia gadis manis berwajah hispanik, yang telah sebulan menjadi kekasihku. Sore ini, kami berjanji akan bertemu di apartemen lusuhku. Hampir dua minggu tak bertemu, aku ingin kami sedikit merayakan rindu. Dua botol bir sudah kusiapkan.
****
Tiga jam berlalu. Pergulatan rindu mencapai puncaknya, bersamaan dengan erangan ringan dan peluh yang terbuang. Tapi sayang, ini juga terakhir kalinya dia mengecap surga dunia. Pisau yang kusiapkan, mengantarkannya menghadap Tuhan.
Wajah cantiknya terbelalak kaku. Tubuh polosnya masih menyisakan peluh surga. Kudekati tubuhnya, kuletakkan fedora hijau bulu merak tepat di wajahnya. Aku tak ingin wajah cantik itu terlalu lama membuatku menyesal. Sekejap, kupalingkan sosok molek itu, ku rogoh bagian dalam kasur, lalu kuraih secarik kertas lusuh. Kelopak mawar kering berjatuhan ketika kubuka lembaran itu.
Lakukan dengan sekali tebas. Perlu sepuluh wanita untuk membuatmu kaya
Kuhela nafas. “Baru dua…” lirihku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar