Kamis, 22 Desember 2011

Prolog cintaku

“BRAAAK!!!”
Seketika itu, semua mata yang berada di kelas menuju ke arahku dan Ibra. Aku shock, membaca beberapa message yang tertera di E90 Ibra, dan ketika aku tanya padanya ini siapa? Ibra hanya terdiam kaku. Hal itu membuat tanganku terbang menggebrak sebuah  meja yang ada di depanku.
“ Sha , tenang. Tenang Sha…”
Glenda mencoba menengkan aku. Namun aku masih merasa panas, marah bercampur sedih. Ibra menyembunyikan sesuatu dariku !
“ Ibra, Diva itu siapa? “ tanya Glenda.
“ Temen gw. “ jawab Ibra pelan. Temen apa TTM ?! sewotku dalam hati. Aku duduk terdiam di samping Glenda dengan tetesan air mata yang sebenarnya enggan ku teteskan. Namun apa daya kantung mataku tak kuat menampungnya lagi.
“ TEMEN KATA KAMU? SMS SOK CARE, SOK PAKE BEIB, SAYANG, KAMU BILANG TEMEN?!” ucapku emosi.
“ Itu temen aku Sha. Dia emang suka sama aku, dari SMP. Dan beberapa minggu ini, dia sering menghubungiku. Namun aku menanggapi dia dengan biasa saja. SMS yang tadi kamu baca, aku sama sekali tidak membalasnya.” Ungkap Ibra berusaha menyakinkan aku. Namun aku tak berucap apa-apa. Aku masih tak percaya, Kata-kata di SMS itu yang membuat otakku kini tercuni dengan beribu curiga. Cewek itu memanggil Ibra dengan sebutan Beib, lalu meminta kepastian hubungan. Kayak gitu dibilang temen? Pasti Ibra memberikan peluang !
“ Sha, udah dong nangisnya… Udah ah, tuh Putri lagi telpon cewek itu. Biar kita tahu siapa yang jujur. “ bujuk Glenda, sambil menghapuskan air mataku. Aku melihat Ibra, hanya duduk terdiam. Mungkin dia merasa bersalah, atau mungkin takut akan terbuka topeng kebohongannya padaku selama ini.
***
Kejadian di kampus tadi membuat pikranku melayang dan hatiku tak tentram. Putri bilang, cewek itu tahu kalau Ibra sudah punya pacar. Dan ketika putri tanya, sebenarnya dia siapanya Ibra, Cewek itu hanya menjawab orang yang menyayangi Ibra. Dan dia ingin menjadi pacar Ibra. Putri juga sempat beradu argument dengan cewek itu yang mengaku bernama Devi. Ia rela jadi Sephia Ibra. Aku enggak habis pikir, ada pengagum Ibra yang sampai seperti itu, kesannya cinta mati ! Dan Putri meminta Devi menjauh dari Ibra, namun cewek itu langsung mengakhiri pembicaraan dengan menutup ponselnya tanpa salam.
Ibra beberapa kali menghubungi ponselku. Namun aku acuhkan. Aku masih emosi padanya. Walaupun pada kenyataannya memang Devi yang mengejar-ngejar Ibra. Aku yakin hal itu karena beberapa jam setelah Devi mengakhiri pembicaraannya dengan Putri, Devi mengirim message yang berisi pernyataan maaf, bahwa ia tidak akan mengganggu hubunganku dengan Ibra dan akan menata hatinya kembali. Dan aku harap itu tulus dari hatinya. Namun entah mengapa aku tidak terpengaruh! Aku masih merasa Ibra salah, Ibra telah memberikan perhatian pada cewek itu secara tidak langsung. AKU KESAL DENGAN IBRA! DASAR COWOK ENGGAK MAU RUGI ! ucapku dalam hati sambil memukul – mukul bantal guling yang ada di hadapanku.
“ TUIT, TUIT, TUIT !”  panggilan message N93i milikku. Dengan malasnya aku membuka inbox ku.

From  IbraQu

Masih marah ? jangan lama-lama dong marahnya… aku kan udah jujur sama kamu. Aku cuma sayang kamu , kamu tahu kan itu? udah cukup kita ngalamin hal-hal yang gak berkenan di hati dulu. Aku janji engak akan ngeladenin cewek yang punya makasud ma aku.
Aku tahu aku salah , aku minta maaf yah hon,,,
Aku gak mau kita kayak dulu lagi.
Duh aku tidak ingin memaafkan Ibra secepat ini. Aku mau cuekin dia dulu.
”HUAAAMM…”
Lelah sekali aku hari ini. Sebaiknya aku tidur siang ini. Biarlah Ibra penasaran denganku. Habis aku juga masih merasa kesal dengan sikapnya. Apa dia lupa perjuangannya mendapatkan hatiku? Huuuf…

****
”  Minggiiiir, minggir lo ! gw mau jalan nich, nyempit-nyempitin jalan gw aja lo. ” ucap seorang cowok, dengan nada menyebalkan. Aku pun segera membalikkan badanku untuk melihat siapa cowok nyolot itu.
Sesosok cowok tinggi, berkulit sawo matang, dengan rambutnya yang sok-sok mau foto copy gayanya Edi Brocoli. Tapi sayangnya enggak mirip tuch! Wajah cowok ini lonjong, enggak kayak Edi Brocoli bulat. Yang jelas tatapan matanya itu menyebalkan!
” Eh, ngerti minggir enggak sih? Gw mau jalan neh . Dut..” ucapnya lagi dan menunjukkan tampang nyolot. Um eits, tunggu-tunggu dia bilang apa tadi?
”  Eh lo bilang apa tadi terakhir?” tanyaku menghadangnya.
” Bilang… Dut? Dut, alias GENDUT! HAHA !” jawabnya sambil tertawa dengan lagak ngebos di depan teman-temannya.
Emosiku pun melonjak naik 90 drajat. Rasanya aku ingin menjambak rambut kribonya itu lalu aku cukur sampai Botak ! Seenak jidatnya dia ngatain aku gendut!
” Sabar Sha! Udah jangan dipeduliin tuh anak. ”
” Mulutnya itu loh Put enggak disekolahin apah?! ” sewotku dan terpaksa membiarkan si kribo itu berlalu dari hadapanku. Kalau Putri enggak menenangkan aku , pastinya aku udah ribut sama tuh cowok. Mudah-mudahan aja, aku enggak punya temen sekelas kayak dia nanti. Huuff… masa baru masuk kuliah udah punya musuh sih gw?
Yah, enggak disangka-sangka aku berhasil masuk Kampus Hijau ini lewat jalur SPMB. Senangnya bukan kepalang, bangganya enggak tergantikan deh dengan apapun juga. Apalgi putri sahabatku juga berhasil masuk , dan surprisenya kita berdua lolos di kampus ini dengan jurusan yang sama. Tapi, aku enggak habis pikir akan bertemu cowok nyebelin di sini !
” Put, anak tadi itu senior apa mahasiswa baru kayak kita yah? Kok gayanya sok beken banget. Ugh gw masih bored banget sama kejadian tadi ! ” keluhku sebal.
” Yaudah sih, ngapain dipikirin terus. Enggak penting juga kan tuh cowok? Kita duduk dimana nih Sha? Depan? ” tanya Putri sesampainya kita di dalam kelas.
” Jangan depan ah. Nanti kalau Dosennya galak, mati kutu gw! Dibarisan ketiga aja Put. ” jawabku.
Semua anak sudah mulai memenuhi ruang kelas. Aku dan Putri mulai bertegur sapa dengan yang lain. Kita semua sudah hampir saling kenal, karena kita semua sudah berkenalan sewaktu ospek mahasiswa baru minggu kemarin.
” HOY SEMUA ! ” teriak seorang cowok yang masuk ke dalam kelas, dengan beberapa temannya. Mendengar suara itu aku yang sedang asyik bercengkrama dengan beberapa temanku, langsung menoleh dan, OH DAMM!!
” Ampun deh gw, masa harus sekelas sama cowok tengil itu?! Mana gayanya selangit ! Tapi pas ospek kok gw enggak liat dia ya? Males banget gw ketemu sama dia lagi , mana rusuh banget di kelas. ” keluhku, sambil bermalas-malasan di kamar bersama Putri. Kebetulan malam ini Putri bermalam dirumahku.
” Hem, dia itu ikut ospek Sha. Cuma kayaknya hari kedua dan ketiga dia enggak dateng. Mungkin lo enggak liat dia. Yah mendingan jangan diladenin kalau dia caper sama lo. ” kata Putri yang masih asyik dengan game boy pink miliknya. Yah, aku sih enggak akan ngeladenin si kribo itu kalau dia enggak cari gara-gara.
****
”  Hei DUT! Serius banget baca bukunya ? ” kata si Kribo yang datang tiba-tiba dan entah mengapa menghampiriku yang sedang serius membaca buku komunikasi untuk Quiz nanti.
” Dut, pertanyaan yang keluar nanti apa ya? ” tanya dia lagi, namun aku tidak menjawab.
” DUT?! DUT!”
” IH! APA SIH?! DAT, DUT, DAT ,DUT DARI TADI?! GW PUNYA NAMA! BUKAN DUT NAMA GW! ”
” Eits, santai… enggak usah teriak-teriak gitu dong. Emang nama you siapa? ”
” TAU AH !” jawabku kesal. Akhirnya aku beranjak dari kursiku dan keluar meinggalkan si nyebelin itu. Bisa-bisa stress kalau berada dekat orang itu.
Aku duduk di depan Tugu kampusku, di sana ada Glenda dan putri juga teman-teman lainnya yang sedang wifian dengan laptop mereka. Aku duduk di sebelah Glenda dan memasang wajah kesal.
” Kenapa lagi lo Sha? Itu muka jangan ditekuk gitu, jelek tau.”
” BT gw Da.”
” Kenapa? Dia lagi? ” tanya Glenda sambil tertawa kecil. Aku mengangguk pasrah. Tiba-tiba perasaanku menjadi sedikit resah. Aku menatap lurus kedepan. Dan…
” HOI ! Wah enak nih lagi pada ngenet gretongan. Eh ada si Tau ah! ”
” Nama gw bukan TAU AH! Tapi Shafira!” kataku sewot. Rasanya tiap ada dia, emosiku meledak-ledak!
” OH Sapi nama lo…”
” BUKAN ! Swasta banget sih kuping lo?! ” ucapku benar-benar kesal. Semua temanku hanya geleng-geleng kepala melihatku dan dia saling tarik urat leher.
” Hei, kalian berdua udah kayak Tom and Jerry ya? Tiap ketemu berantem. Hati-hati loh nanti saling cinta…” ledek Boby.
” HAH?! Cinta sama cowok rese gini? ENGGAK AKAN ! AMIT-AMIT DEH GW! ”
” YEEH… PD LO! Siapa juga yang mau jadian sama cewek yang pipinya chubby kayak lo. Dasar endut , shaaapiii !!!” balasnya dengan memasang wajah menyebalkan. Rasanya aku ingin menggaruk wajah jeleknya itu! UGH…

****
Duh… kenapa sih wajah dia menggantung di otakku?! Huu kenapa jadi sulit tidur begini sih? Humm kalau gitu YMan aja ah…
Coolboy want to being your friend. Yes? Or no?
Ah, mungkin aja dia seru. Yes aja deh..
Coolboy: << BUZZ !
Shacute: << BUZZ !
Coolboy: belum bubu nich?
Shacute: belum,,sapa ya ni?
Coolboy: maafin gw ya
Shacute: ???
Shacute: << BUZZ !
Coolboy: orang yang suka buat lo kesel setiap hari…
Coolboy: Sha…
Coolboy: ???
<< Shacute sign off…
Ha? Masa ini… orang rese itu?
****
” DOOR! ” kejut Glenda mencoba mengagetkanku.
” IH Glenda apaan sih! ” ucapku sewot. Glenda hanya tertawa dan mengedipkan matanya seperti menggodaku. Aku mengerutkan dahiku tak mengerti.
” Chie, yang dari tadi dilihatin dari jauh sama penggemar setia…” godanya padaku. Aku menjadi tambah bingung, apa sih maksud cewek chaines satu ini? Penggemar setia? Glenda memainkan matanya, seperti menunjukkan sesuatu padaku. Aku menoleh kebelakangku, ternyata si rese itu sedang duduk tenang sambil senyum-senyum sendiri dan tampaknya ia memperhatikan aku dari tadi.
” Lo sadar enggak sih Sha, dua minggu ini elo enggak pernah lagi adu bacot sama doi. Doi juga udah enggak jail sama lo. Hem…biasanya setiap hari bak Tom and Jerry berdua. Sekrang kalem-kalem aja. Udah baikan?”
” Enggak tuch, biasa aja. Lagian bagus deh dia diem jadi tanduk gw enggak muncul.” responku santai.
” Eh Sha kabarnya dua hari yang lalu dia ditembak loh sama cewek, jurusan seni. Tapi, dia tolak mentah-mentah, padahal itu cewek ciammik abez! Madona gitu di jurusannya. Dan kabarnya juga nih, dia nolak itu cewek karena elo!” katanya lagi dengan mimik serius. Aku hanya tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua. Aku enggak perduli itu cowok mau ditembak kek, mau nolak cewek , enggak perduli. Lagi pula enggak ada buktinya juga dia suka sama aku.
” SHA JANGAN SOK JUAL MAHAL LO ! ” teriak Glenda ketika aku terus berjalan tak perduli.
*****
” Hei, kok belum pulang? Nunggu dijemput yah?”
Duh, kok dia tumben lewat terminal bus disini? Tanyaku dalam hati. Sore ini terpaksa aku pulang sendiri, Putri yang biasanya pulang denganku kali ini dia sibuk dengan kegiatan tarinya.
” Sha?! Ditanya kok malah diam? Udah mau hujan Sha. Mendingan Ibra antar pulang. Yuk?” ajaknya lagi. Kedengarannya sih tulus. Namun aku masih tidak menghiraukannya, sampai…
” GLEGGARRRR !!!” teriak langit yang makin menghitam disertai tetesan hujan. Dan itu membuat aku menutup kuping karena takut. Aduh, mana busnya belum lewat-lewat. Gimana nih? Masa aku harus…
” SHA! Lo, gw anter!” katanya sambil menarik tanganku masuk ke dalam mobilnya.
” Ih! Kok lo main tarik tangan gw masuk ke mobil lo sih? Rese…”
” Yeh, bukannya bersyukur. Kalau enggak gitu lo sekarang kehujanan di Halte Bus. Lo masih marah ya sama gw?”
Aku tak menjawab. Namun entah mengapa aku rasa aku sudah memaafkannya.
” Ah diem melulu. Maafin gw ya selama ini gw suka cari gara-gara sama lo. Sebetulnya gw enggak mau, tapi setiap liat wajah lo yang chubby itu, gw jadi gemes. He,he,he..”
” Oh… mau anter gw sampai mana?” tanyaku datar, sambil pura-pura tidak perduli.
” Rumahlah… udah duduk tenang. Kalau ngantuk tidur aja, gw gak bakal ngapa-ngapain lo kok. Gw juga udah tahu kok rumah lo. ” ucapnya sambil menolah padaku dan tersenyum hangat. Dan tanpa kusadari aku pun melempar senyum yang sama.
” Sha, sebenarnya gw…”
” Hem kenapa ? ”
”Gw, itu..’ GLEGGARRRR!!’ ”
” AAAA ! ”
”…………………………”
” SHA BANGUN! ”
” AAA PETIR! ”
” WOOY! BANGUN LO JANGAN NGIGO AJA! ”
****
Ternyata aku bermimpi. Tapi, kenapa harus bermimpi masa lalu?Dulu aku sangat benci pada Ibra. Aku sebal dengan sikapnnya yang over cari perhatian hingga membuatku naik darah. Hingga pada saat malam itu hujan sangat deras, dan suara petir itu yang membuat aku meringkuh dalam dekapan Ibra untuk yang pertama kalinya. Dan karena suara petir itu juga Ibra berani ungkapkan rasanya padaku. Duh, aku jadi kangen Ibra…
” Sha, lo mimpi apaan sih sampai teriak-teriak begitu? Mimpi setan siang bolong?!” tanya Glenda meledek.
” Iya mimpi setan. elu setannya! Ha,ha,ha!” jawabku tak serius, ” Tumben udah jam segini main?”tanyaku heran sambil melihat ke arah jam bebekku yang menunjukkan pukul delapan malam.
” Yeh, gw mau nginep lupa lo?kan kita mau lari pagi besok. Eh tau-taunya lo lagi lari di tempat tidur! Udah baikan sama Ibra?”
” Hem… belum.”
” Kok belum? Sorry nih Sha, tadi gw iseng lihat ponsel lo, Ibra telepon sampai tiga puluh panggilan. Hebatnya lo enggak kebangun. Makanya gw penasaran lo mimpi apaan sih sampe kebo begitu lo tidur! Biasanya berisik sedikit juga lo bangun.”
” HAH?! MASA SIH?” kataku terkejut dan langsung memeriksa Log di ponselku. Dan benar, tiga puluh miss call ! Duh kasihan Ibra.
” Sha gw ke dapur bentar ya.” kata Glenda. Aku mengangguk, dan bergegas untuk mandi. Ketika kakiku melangkah…
” CLIK!”
” GLENDA!!! MAMA! MATI LAMPU! Duh, gelap banget!” ucapku ngeri. Terdengar ada kaki yang melangkah mendekat ke arahku. Namun yang terdengar jelas adalah hela nafasnya.
*****
” Prolog cintaku adalah egoisme
Tanpa sebongkah senyum,
Tanpa segayung canda,
Yah yang ada hanyalah emosi jiwa
Mata-mata di sekelilingku pun pernah berkata,
Jangan kau menaruh muak padanya,
Nanti kau kan terpanah auranya
Cupid dari awan mendengar serapahku.
Bayi bersayap memanahkan panah asmaranya,
Padaku padanya…
Ku tahu kini,
Egoisme tak selamanya berakhir hitam,
Karena epilogku segunung rasa cinta untukmu.”
Lantunan puisi itu, itu adalah puisiku pertama yang aku berikan untuk Ibra. Dan suara itu…
“ Sha, maafin aku ya. Aku tahu aku salah. Seharusnya aku tidak hiraukan dia.” Setelah perkataan itu, lampu pun kembali berpijar. Penghlihatanku sedikit kabur karena silau. Remang-remang terlihat wajah yang tak asing lagi bagiku. Ia mendekat dan mendekapku erat.
“ Maafin aku Sha.. aku sayang kamu, jangan biarkan egoisme membutakan hati kita lagi.” bisiknya. Aku hanya mengangguk tanda memaafkanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar