Kamis, 22 Desember 2011

Pengorbanan

Berulang kali Kevin melihat ke arah perempuan itu, memastikan apa benar yang ia lihat adalah Siska.
Mantan kekasihnya, seseorang yang sangat ia kenal. Dulu...

Kevin berdiri mematung didepan pintu kopsis ketika temannya menepuk pundaknya.
"Woy, bengong aja lo! Ngeliatin apa sih?" Anggi bertanya sambil tertawa.
"Hah, itu.. Kaga. Gue barusan kayak liat orang yang gue kenal" Kevin gugup tak karuan.
"Cie siapa tuh? Kayak yang iya aja gaya lo. Kelas yuk" Anggi berlalu sambil meninggalkan Kevin yang masih diam.


**
Suasana di kantor guru masih sepi, hanya baru beberapa guru yang datang.
"Selamat pagi, ibu Siti?" Gadis itu menyapa ramah.
"Iya, kamu ini siapa? sambil mengelap tangan berminyak bekas makan gorengan.
"Saya siska ibu, murid pindahan" Mencium telapak tangan wanita tua tersebut.
"Jadi kamu murid baru? Pindahan dari mana?" Bu Siti, wali kelasnya bertanya.
"Iya bu, dari sma ujung situ tuh" Siska menjawab sambil tersenyum malu-malu.
"Ujung mana to ndo? Ujung dunia?" Bu siti tertawa
"Ah ibu bisa aja" Siska tersenyum malu.

**
Sementara di kelas XII IPA 1, laki-laki itu masih terdiam di tengah keributan kelasnya.
"Kenapa sih bro, kok diem aja bacot lo?" Dicky duduk tepat di depan bangkunya.
"Bete gue, belum sarapan" Kevin menjawab sekenanya.
"Tai lo, bilang aja baru ketemu mantan. Hahaha" April menghampiri kerumunan para cowok itu.
"Lo kata sapa? Bener itu siska?" Kevin mendekatkan diri pada April.
"Iya deh kayaknya, gue liat barusan jalan sama Bu Siti. Jangan-jangan dia pindah sekolah buat deket sama lo. cieee" April ngeloyor pergi sambil tertawa.
"Najis, untung sebentar lagi kita lulus." Kevin mencoba tertawa tetapi teman-temannya yang lain sedang sibuk. Tak dihiraukan.

**
Pundaknya serasa di tepuk, ia menoleh kesamping.
"Anak baru? Pindahan dari mana? Mengulurkan tangan, senyumnya tulus.
"dari sma 28, namanya siapa? Siska balas tersenyum, mengulurkan tangannya.
"Siapa? gue? gue Andre, tapi panggil aja aan. Lo siapa?" Aan mengunyah makanannya.
"Siska"

**
Gosip pindahnya mantan Kevin dengan cepat menyebar di kelasnya.
"Gila tuh cewek" Kevin mendengus kesal.
"Jangan Geer dulu bro, kali aja bukan karna lo dia pindah kesini" Anggi berbicara tanpa menoleh ke arah Kevin.
"Ya kalo gak karna gue, siapa lagi? hahaha" Gurauannya tak di hiraukan oleh teman-temannya.
Dalam hatinya, Kevin ingin tahu alasan sebenarnya Siska pindah ke sekolahnya.

Sebulan berlalu, mereka sering bertemu. Tak pernah bertegur sapa.
Seperti hal-nya orang asing yang tak pernah saling kenal.
Seringkali Kevin kesal saat melihat Siska tertawa bersama teman-temannya, saat mereka bertemu di kantin sekolah tapi Siska tak pernah menoleh ke arahnya, atau saat melihat Siska jalan berdua dengan lelaki ntah siapa ia tak tahu.
Kevin benci melihat Siska bahagia tanpa dirinya..

**
Sore itu hujan, mobilnya mogok sementara teman-temannya telah pulang lebih awal.
Ia memang harus segera les hari ini, persiapan menjelang UN.
"Mobil sial, gak mau hidup. Gak tahu diri" Kevin menendang ban mobilnya, berharap sang mobil bisa merasakan sakitnya.
Saat itu pula ia melihat gadis itu, sibuk memperhatikan handphone sambil sesekali memperhatikan jalan.
Seperti menunggu sesuatu.
gadis itu balik menatapnya, mata mereka bertemu.
Kevin memilih untung membuang muka, pura-pura tak melihat.
Gadis itu menyebrang jalan, mendekati Kevin.
"Kevin? Lagi apa?"
  ...
"Menurut lo gue lagi apa?" Kevin membuka kap depan mobilnya, mencoba mensibukkan diri.
"Aku gak tahu makanya aku nanya hihihi" Siska tersenyum malu melihat kelakuan mantannya itu.
"Ngapain sih lo kesini? dan ngapain lo pake pindah kesini?" Kevin melihat wajah gadis itu. Terdiam.
"Emang ada larangan ya aku sekolah disini? Kenapa? Gak suka?" Siska berpura-pura memasang wajah cemberut.

"oh men.. Please, jangan wajah itu" Kevin berbicara dalam hatinya sambil terdiam menatap wajah Siska.

"Ya biasa aja, emang kenapa lo pindah? Ada masalah sama sekolaah lama lo?" Kevin berusaha menunjukkan sikap tak peduli yang tampaknya gagal akibat rona wajahnya yang memerah.
"Kan dulu aku pernah bilang, kalo gak kamu yang datang ke aku berarti aku yang harus datang ke kamu" Siska tersenyum, tenang dan berkata layaknya tak ada beban.
Kevin salah tingkah.
"Gue beli air dulu ya buat aki mobil gue. Mau pergi ya pergi aja lo"
Siska menunduk, hatinya agak terasa sakit. Tapi ia telah biasa selama 4 bulan mengharap cinta mantannya itu.
Berharap mungkin Kevin suatu saat akan luluh hatinya.
"Aku nunggu disini ya"
"Terserah lo" Kevin melengos pergi akan menyebrang jalan saat sebuah sedan merah melaju kencang dan tampaknya tak berniat memelankan laju mobilnya.


BRAAKKK..
Dengkulnya terasa sakit, saat ia menoleh kebelakang dan melihat tubuh yang kejang-kejang.
Ia mengenalinya, itu Siska.
Tak ada darah, tak ada luka. Tapi tubuh siska terus mengejang.
Orang-orang berkumpul, pedagang berusaha menolong.
Tangan kevin merasakan denyut di leher Siska, semakin melemah.
"Aaa ku.... Sa..say.... ang... Kamu"
Tubuh gadis itu tak bergerak lebih lama.
Butiran bening jatuh dari sudut mata lelaki itu. Sakit di dengkul kakinya tak seberapa.

**
Selanjutnya yang Ia tahu, ia melewati satu minggu di rumah sakit.
Siska belum juga sadar setelah di operasi.
Dokter bilang, saat sadar Siska tak akan ingat kejadian setahun ke belakang.
Tak akan mengingat kisah 9 bulannya bersama Kevin. Yang menyedihkan itu.
Karena bagian otaknya terbentur dengan keras saat tertabrak.
Tubuhnya terlempar, kaki kirinya patah. Tapi ia selamat.

**
Perlahan matanya terbuka, dilihatnya sekelilingnya. Seolah asing dengan keadaan.
Ia mengenali ibunya, ayahnya, serta adiknya.
Tapi siapa kedua lelaki yang sedang tertidur di sofa itu, apakah temanku? Siska bertanya-tanya.
"Kak ika bangun juga!!" Adik lelakinya itu teriak, teriakannya membangunkan kedua lelaki itu.

Keduanya mendekat
"Udah sadar siska?" Anggi menyapa terlebih dahulu.
"Kamu siapa?" siska balik bertanya.
"Gue anggi, teman sekolah lo" Anggi menjawab, tersenyum ramah.
"Kalau kamu siapa?" Siska menunjuk ke arah Kevin.
"Uh... Hah? Gue Kevin, temen sekolah lo juga. Hehe" Kevin menggaruk kepalanya, ntah karna gatal atau bingung menjawab pertanyaan Siska.
"Aneh, aku ngerasa kenal kamu. Kamu ada di mimpi aku. Kamu nangis. Hahaha" Siska tertawa.
"Berarti kevin cowok impian lo dong hahaha" Anggi berusaha melucu. Tapi tak salah satu dari mereka tertawa.

Kevin tersenyum kecut, dalam hatinya ia menyesali segala kesalahannya..
Gimana kalo gue bilang, lo gini gara-gara gue? Gimana kalo gue bilang lo udah ngorbanin nyawa lo buat gue? Batin kevin berkata, terasa sakit tepat di dadanya.
Merasakan perasaan bersalah yang amat sangat, merasakan betapa gadis itu menyayangi dirinya.
Hatinya luluh, ingin ia memeluk tubuh gadis di hadapannya itu.

Terlambat..
Gue terlambat untuk sadar, selama ini gue nyakitin dia dan gue masih bikin dia kesakitan seperti ini.
Kevin mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan ruangan itu saat bulir-bulir air matanya perlahan jatuh.
Pandangan siska menemani kepergiannya sampai ujung pintu. Tak berusaha untuk menahan kepergiaannya, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar