Rabu, 21 Desember 2011

Mengalah..


Hal yang mungkin saja selalu kau sisihkan ketika terpikirkan, karena kamu merasa harus melakukannya. Kamu katakan pada dirimu sendiri, ‘menjadi manusia baik salah satunya harus melewati yang ini’. Lalu kemudian semua terjadi berulang kali.

Mengalah bukan berarti kalah, bila kau melihat melakukannya adalah sebuah kemenangan. Tetapi ketika itu telah menjadi kebiasaanmu, bagaimana itu bukan sebuah kekalahan? Dan kemudian kau tertunduk di bawah langit kelabu. Bertanya, ‘mengapa harus aku, lagi-lagi?’

Aku meyakini tidak lah mudah menjadi ‘si baik hati’ di segala musim. Menjadi ‘si penyabar’ di segala kenyataan. Menjadi ‘si bodoh’ di segala kebahagiaan milik orang lain. Maka dari itu, Tuhan menciptakan perasaan agar kita bisa merasakan apa yang ‘baik’ dan bagian ‘buruk’ mana yang harus ditinggalkan. Tapi meninggalkan yang satu ini terkadang terasa seperti menghianati diri sendiri.

Seorang anak perempuan kecil berlari ke arah ibunya, merengek sebuah logam 500 rupiah untuk membeli sebutir permen. Lalu sang ibu berkata, kau telah menghabiskan 2 butir 500 sepanjang siang, dan itu belum cukup? / aku bukan menghabiskannya ibu, aku baru menggunakan sebutir 500 dan sebutir 500 yang lain hilang./ lalu sang ibu memanggil sang kakak, berapa butir 500 yang kau punya? Sang kakak dengan semangat bicara, aku punya 2 butir yang utuh ibu!/ kalau begitu beri satu butir untuk adikmu./ Tapi ini punyaku, sebutir yang kupunya ingin kusimpan di celengan babiku. Dan aku tidak ingin menghilangkannya./ Sang Ibu bertolak pinggang lalu berucap, Ini bukan permohonan, ini perintah. Adikmu menghilangkan satu miliknya. Dan kau masih punya dua. Dan ibu tidak berniat mengeluarkan butir lain yang baru.

Saya tak pernah punya adik. Tetapi saya tau ‘mengalah’ yang telah banyak ‘kakak’ berikan pada adiknya. Mereka mungkin melakukannya karena terpaksa. Mereka merasa terpaksa melakukannya, karena mereka belum mengerti. Tapi itu bukan terpaksa, jika pada akhirnya kau benar-benar melakukannya. Bagiku tidak ada yang terpaksa dalam hidup ini. Semua yang terjadi adalah sebuah porsi yang harus kau makan dengan baik, agar tak merusak pencernaanmu.

Semua yang berani mengalah adalah seorang pahlawan. Tetapi semua yang terjebak di dalamnya bukan lah pahlawan yang jelek. Mereka cukup baik untuk melalui hidup. Hingga akhirnya mereka akan bahagia dengan porsi-nya.

Jika sudah terlanjur terjebak, dan tidak ada jalan keluar. Bukan berarti kau tidak bisa menciptakan bahagia di tempat yang lain. Kau hanya perlu belajar berkata ‘tidak’ sewaktu-waktu. Dan bilang, ‘Ini giliranku. Kau hanya perlu menunggu hingga giliranmu datang kembali.’


Lalu kau hanya perlu mensyukuri karena kau punya cadangan 'pengertian' melebihi orang-orang disekelilingmu. Dan ketika mereka tak cukup menghargainya, Tuhan masih melihatmu. Mungkin terdengar bodoh--tapi percayalah menjadi pintar juga bukan hal yang melulu bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar