Kamis, 22 Desember 2011

KARMA

KARMA
Oleh: Nuzula FIldzah
Diam-diam kucuri lidahnya.
 Saat ia  terpulas dalam nada belaian.
 Bisu merajai pagi.
 Palsu tak akan warnai hidupku lagi.
***
Pagi ini tubuhku terpantul kembali pada cermin lemari jati yang masih kokoh berdiri di kamar mendiang Opa. Aku tinggal tak dengan siapa-siapa, setelah mereka menjadi kelelawar hitam yang mendobrak jendela rumah. Hanya menyisakan puing-puing kaca dan tetes air mata. Aku sebatang kara.
Aku memandangi dari ujung rambut hingga ujung kakiku, terutama bagian yang kulihat semakin jelas terlihat. Dahulu, setahun yang lalu. Tubuhku belum melengkung seperti sekarang ini, masih lurus bagai papan cuci kayu yang dipakai Mbok Inah mencuci bra-braku. Ya, BRA. Sudah kubuang semua! Yang membuatku sesak hingga sulit bernapas. Jelas, dadaku semakin membesar dan aku tak tahu mengapa bisa seperti itu.

***
“Opa, mengapa kamar Ayah selalu tak tenang di tengah malam? Seperti ada segerombolan kucing yang gelisah di dalam. Namun, ada jeritan juga dan terkadang mengeong mengerang?”
“Tak usah kau hiraukan, di sini saja, tidur di kamar Opa. Besok Ibumu pulang, jangan ceritakan apa yang kau dengar ya cucukku.”
Begitulah sekiranya pertanyaanku dan jawaban Opa sebelum ia terbang ke Surga. Aku tak berkata apa-apa, aku diam dan bungkam. Seekor kucing ternyata, bulunya halus, berwarna putih, dan memiliki bibir merah semerah darah. Kucing itu selalu digendong Ayah sambil Ayah tertawa, terkikik, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Ayah tak pernah lepas merangkulnya, tampak sekali ia sayang pada peliharaannya itu. Namun, ketika ibu di rumah kucing itu hilang, entah mengumpat atau diumpatkan ke mana oleh ayah.
Pernah pada suatu malam, aku, Ibu, dan Ayah duduk di ruang tengah. Kami memang sering duduk bersama, bertukar cerita, hingga kantuk menyerang kelopak mata.
“Ayah, kemana kucing peliharaan ayah?”tanyaku tiba-tiba. Raut wajah ayah pucat seketika. Matanya membulat dengan pupil terlihat mengecil. Ibu memandangi ayah, tampak heran dan bertanya-tanya.
“Ayah, kemana dia? Biasa ia mengeong di kamar Ayah tengah malam. Ibu tak tahu kan Ayah punya kucing?”
“Tidak, ibu tidak tahu. Ayah pelihara kucing? Anggora? Atau…”
“Hanya kucing kampung sayang.” Jawab ayah berusaha tenang. Semenjak malam itu, ibu tak pernah lagi dinas ke luar kota. Mungkin Ibu ingin melihat Ayah menjilat-jilati kucing kampung itu, hingga mengerang bersama di sofa hingga ranjang ibu.
***
“Ayah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan kalian. Karena kalian dua hal yang membuat ayah mencintai kehidupan. Kalian rumah utama bagi hidup Ayah.”
Begitulah Ayah berucap sepulang ia mengusir seekor kucing kampung putih. Kucing itu sempat mencakar-cakar baju Ibu, ketika Ibu tak sudi menyentuhnya. Ibu pun sempat meludahi Kucing Kampung yang Ayah bilang bukan peliharaannya. Ibu marah, murka, dari korteks wajahnya terlihat aliran darah yang kuat memerahkan seluruh wajahnya. Aku hanya menangis dan berdiri kaku melihat ibu mengeluarkan seluruh pakaian Ayah dari lemari kamarnya. Namun, akhirnya ibu luluh saat ibu melihat ayah menendang kucing kampung berbibir merah itu. Yang kulihat satu, perutnya membesar dan ayah tak peduli akan kebuncitannya.
Banyak hal yang Ibu tak tahu dan aku tahu.
***
Aku memandangi dadaku kembali. Kemarin aku merasa ukurannya tak segini. Ah, aku benci! Mengapa jadi serupa dengan susu kucing kampung dulu? Ah, aku tak ingin tumbuh, jika bisa aku ingin tak menjadi wanita dewasa.
Ibu, ayah, opa kini mereka hanya bayangan. Dan aku di sini, dalam kesendirian walau ada seseorang yang kerap menghapuskanku dari rasa sepi.
“Janji padaku, kau tak akan pernah tinggalkan aku?”
“Saat rembulan bersinar, lalu digantikan matahari, janjiku tetap berlaku padamu, hanya kamu.”Ucapnya dengan menatap wajahku sambil terus menenggelamkanku dalam nirwana dunia. Aku tak tahu, namun itu yang kurasakan, tenggelam di dalam dua jemarinya yang seakan terpenggal di  dua buah dada.
Ia lebih muda dariku, jauh lebih muda. Namun, aku seakan buta. Ia datang di saat aku tak memiliki siapa-siapa. Ia dan Mbok Inah tepatnya.
Sejujurnya, aku tak percaya pada kekasihku itu. Ia terlalu muda dan aku tak yakin perbedaan kami dapat menyatukan. Sepuluh tahun!
Tidak hanya itu, aku pun mempertanyakan janji-janjinya. Karena setiap kali ia merayapi tubuhku, setiap kali itu juga ia membuat luka di hatiku. Ia kutemukan tiada di kamar Opa.
***
Pohon-pohon mangga besar siap menampung mayatku jika aku mau. Sama seperti para gadis desa yang kehilangan ranumnya sebelum waktu peminangan. Mengikatkan tali, lalu gantung diri. Terlalu bodoh. Buat apa mereka berbuat? Jika berujung hanya menjadi mayat.
Mereka mati dikabarkan karena kepalsuan. Mulut lelaki yang tak pernah habis meracuni pikiran gadis berusia kuncup bunga. Belum mekar, masih rawan. Dan kebohongan adalah perangkap manis bagi para hidung belang. Kalau saja, aku tak buta mencintai pria muda yang menumpang di rumahku itu, mungkin kepalaku sudah tergantung di atas pohon mangga di belakang rumah.
Malam ini, ia tak terlihat sama sekali. Malam ini ia belum menyusu di dadaku yang membengkak karena ulah belangnya. Dan malam ini, mulut busuknya belum merayuku hingga aku terkapar tak berdaya. Kemana dia? Lelaki muda yang baru kusadari tak berotak seperti pantat panci.
Aku memandangi foto Opa yang terpajang di cermin lemari jati. Terdiam dan butiran-butiran air mata membasahi pipi.
Lena, kamar Bibi…
Kamar bibi? Aku menepuk-nepuk wajahku. Opa… angin yang berhembus dari jendela seperti menyuarakan suara Opa. Kamar Bibi? Aku bertanya-tanya lagi. Mengapa kamar Bibi?
***
“Sayang, tanganmu selalu tak berhenti membuat gejolak. Kau kira aku adalah pantai tenang dan kau adalah ombaknya?”
Lelaki muda ini tak menjawab, hanya tersenyum dengan wajah berkeringat. Aku menahan segalanya. Kubiarkan ia bermain dengan tubuhku sesuka hatinya. Hingga lelah dan menyerah.
“Aku benar-benar tak akan meninggalkanmu Lena… Kau adalah Bidadari yang penuh dengan kerelaan kunikmati.”
Mendengar janjinya lagi, lagi, dan lagi sangat membuatku benar-benar tak habis pikir. Ia adalah kehancuranku. Dua bola matanya akhirnya terpejam. Kelelahan dendam berbalut tipu daya. Lidahnya seperti anjing menjulur di atas tubuhku. Dan aku terlalu polos jika pasrah terluka dalam masa lalu Ayah.
Jemariku mulai menggenggam sebilah celurit berkarat, yang sudah kusiapkan memang di bawah ranjang. Ia terbius sudah. Tak akan sakit sayang… Ucapku dalam hati. Langsung saja, diam-diam kucuri lidahnya. Saat ia terpulas dalam nada belaian. Bisu merajai pagi. Palsu tak akan warnai hidupku lagi.
***
“Tenang Bu, wanita itu sudah kunikmati. Sudah kusantap sesuka hatiku dan bodoh saja jika ia pikir aku mencintainya. Ia tua Bu, dan aku masih muda dengan sejuta ketampanan.”
“Lumatkan saja dia. Buat dirinya renta, tersiksa hingga mati dalam kemaluannya! Ibu benci dengan dia! Ibu benci sama seperti membenci Ayahnya, Ayahmu yang menghabisi tubuh ibu dan menendangmu jauh saat kau belum be-roh dahulu.”
***
Kucing kampung, berbibir merah darah. Ternyata belum binasah setelah ditendang ayah dahulu kala. Ia datang membawa karma. Aku masuk dalam perangkapnya, namun ia lebih menderita. Karena karma bukan untukku, karena karma adalah miliknya. Mbok Inah tercengang tak berdaya, melihat anaknya tak berlidah di pagi buta.

NOTE : Cerpen ini dipublish di Majalah MataPena bulan Agustus 2011.

Agak rumit gaya bahasanya, tapi anda cerdas dan pasti mengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar