Sabtu, 10 Desember 2011

Indah di awal

“Boleh duduk di sini, Mbak?”
Suara bariton dari sebelah kiri mengagetkanku. Kepalaku berputar ke arah sumber suara, lalu mengangguk seraya menyingkirkan tasku dari bangku sebelah.
“Sendirian aja, Mbak. Nggak bareng temennya?”
Pertanyaan basa-basi mulai diluncurkan cowok itu. Sebenarnya, aku paling malas menanggapi segala bentuk pertanyaan sok pengen tahu-siapa elu macam ini. Tapi malaikat baik sedang berhasil membujukku untuk sekedar meletakkan blackberry-ku ke dalam tas dan meladeni pertanyaannya. Lagipula, lumayan ada teman ngobrol ketimbang terus-menerus sibuk dengan ponsel.
“Iya, Mas. Teman-teman saya nggak ada yang pulang ke arah sini”
Bermula dari percakapan basa-basi, obrolan kami berubah menjadi menyenangkan. Mulai dari bertukar pendapat mengenai masalah sosial, atau masalah ringan seperti musik dan film. Ada satu novel favoritku yang ternyata juga jadi favoritnya: Breakfast at Tiffany’s karya Truman Capote. Dia bahkan yakin kalau Audrey Hepburn adalah satu-satunya aktris yang cocok memerankan Holly Golightly. Aku hanya bisa terbahak mendengar pendapatnya. Ada-ada saja dia.
Dia? Tunggu. Obrolan sudah memasuki fase cair tapi aku masih belum tahu namanya? Kulirik jam dinding di halte. Ternyata kami sudah di sini lebih dari setengah jam. Dan cowok di sampingku–yang terlihat akrab denganku ini ternyata masih berstatus ‘orang asing’.
Oh iya, sampai lupa. Aku Agra, kamu?
Seperti membaca pikiranku, dia memperkenalkan diri.
Magda..” Sambil tersenyum, tanganku menyambut tangannya.
Bagus deh, aku kira Holly Golightly.” Agra nyengir, memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
Kami pun terbahak.
*****
Kamar tidur, Februari 2011, 07:12
Aku menyeka air mata yang menggumpal di sudut mata. Beberapa jam lagi, sidang keputusan atas rumah tanggaku dan Agra akan jelas. Dada ini terasa sesak saat ingatanku akan perkenalan manis dua tahun lalu menyeruak. Sebuah awal dimana aku mengenal sosok Agra yang lucu dan baik di awal, tapi berubah menjadi ringan tangan saat kami berumahtangga.
Tertunduk, perasaanku kini diambang lega. Setitik air mata jatuh di tanganku, beberapa senti dari lebam biru yang enam hari lalu dihadiahkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar